024 - 888888 amasemarang@gmail.com

AKHIR-AKHIR ini kita tentu sangat familiar dengan istilah mompreneur, edutainment, sportventure dan semacamnya itu. Bahkan barangkali sudah sangat paham maksudnya tanpa sempat memikirkan termasuk peristiwa atau gejala bahasa apakah gerangan? Salah satu contoh berikutnya adalah “glokalisasi”.

Hasil dari menyimak blog unnes.ac.id, istilah glocalization atau glokalisasi merupakan perpaduan dari kata globalisasi dan lokalisasi. Pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Roland Robetson. Kata tersebut diadopsi dari istilah berbahasa Jepang dochakuka yang sebetulnya berarti sebuah adaptasi teknik bertani yang dipadukan dengan keadaan setempat. Pada akhinya, istilah tersebut sering dipergunakan pada 1980-an (Robertson, dalam Habibul Haque Khondker, 2004), yang semula bermakna
sesuatu yang global lantas
diinterpretasikan dengan nilai lokal lantas berkembang menjadi sebuah jargon bisnis untuk menyebut adaptasi produk atau jasa terhadap wilayah atau kebudayaan tempat mereka dijual. Glokalisasi mirip dengan internasionalisasi.

Sebagai pelaku bisnis
yang hendak melebarkan wilayah pemasaran, sudah barang tentu prinsip ini Sangat penting dipahami agar penerimaan pasar setempat terhadap ekspansi produk yang datangnya entah dari mana dapat berlangsung lebih soft dan relatif tidak ada gejolak.

Kalau kita mau mengamati dan belajar dari keberhasilan ada beberapa pemain bisnis global yang sudah melakukannya. Beberapa waralaba ayam goreng cepat saji(sebut saja McD dan KFC) pernah menempuh cara cerdas ini. Jika di negara asalnya paket yang dijual semula adalah ayam goreng tidak pedas dengan kentang goreng saja sudah sangat taku, apakah demikian di negara tujuan pelebaran pasar?

Laris Manis

Mengusung local wisdom adalah keputusan yang tepat. Melihat kebiasaan setempat bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok maka disediakanlah menu pilihan paket ayam
goreng panas dengan nasi, bahkan dalam perkembangannya demi menuruti selera lidah terhadap rasa pedas maka tidaklah tabu Pula mengembangkan rasa hot spicy fried chicken yang akhimya justru laris manis itu. Sungguh cerdas bukan?

Yang tidak kalah menarik adalah fenomena gila bola yang mendunia pada
dekade terakhir ini. Perilaku demam mengoleksi jersey tim kesayangan kelas dunia pun merambah hingga kawasan jazirah. Berdasarkan market survey yang dilakukan oleh produsen replika jersey, didapatkan kesimpulan bahwa mereka para fans olahraga macho populer tersebut punya minat kuat untuk ikut merasakan sensasi mengenakan seragam tim kebanggaan tanpa meninggalkan adat dalam berpakaian. Kompromi alias padu padan desain akhirnya menjadi pilihan. Setelah diproduksi model tersebut dalam jumlah terbatas sebagai test the water dengan melibatkan segelintir tokoh panutan, mulai hebohlah respons pasar setempat. Mulai dari menjadi topik perbincangan hingga menjadi item yang paling dicari pada gerai-gerai yang menyediakan replika uniform sepakbola tim kelas dunia. Dan inilah respons sesungguhnya yang paling diharapkan oleh pelaku industri.

Nah, bagi Anda yang bisnisnya sudah meraih capaian sebagai juara di kandang sendiri, sudah yakin dengan keberhasilan prinsip elisiensi yang tinggi, kalkulabilitas (daya hitung) yang cermat dan prediktibilitas (daya prediksi) yang
mumpuni, maka bagaimana dengan rencana bisnis selanjutnya?(69)

-Muhammad Gunawan, pelaku usaha dan
pembelajar. Distributor alat kesehatan. Laboraforium dan reagensia – afiliate property agent dan founder ESTUBI JOGJA (lembaga pelatihan imers untuk pemula)

Sumber: SuaraMerdeka cetak RABU, 21 Dec 2016