024 - 888888 amasemarang@gmail.com

JAUH sebelum tahun 2000, saat seseorang mulai membangun sebuah usaha, yang paling banyak dibutuhkan adalah waktu. Waktu untuk membangun jaringan, waktu untuk lebih mendalami bidang usahanya, waktu untuk bisa menjadi lebih baik dari pesaing-pesaing yang ada, serta waktu untuk menambah modal dan memperbesar sebuah usaha. Banyak sekali waktu yang dibutuhkan untuk menjadi besar.

Sejak tahun 2000-an di Indonesia dan dunia, perkembangan digital di luar dugaan. Bahkan saking pesatnya, persaingan yang terjadi saat ini adalah persaingan usaha digital. Banyak perusahaan besar yang beramai-ramai men-digital-kan unit usahanya. Mereka berusaha memberikan informasi sebanyak-banyaknya melalui website.

Tidak hanya itu, belakangan ini dengan ramainya smartphone yang makin canggih, maka perusahaan besar pun ramai-ramai untuk ikut masuk ke dunia smartphone. Sekarang semua yang ada dalam genggaman lah yang akan lebih banyak di akses oleh calon pelanggan. Mereka yang tidak men-digital-kan usahanya makin lama akan makin tergerus habis dan tersisihkan.

Persaingan yang terjadi sudah tidak lagi melihat seberapa lama perusahaan itu ada. Banyak usaha baru yang dirintis tidak lama sudah memiliki omzet dan juga pelanggan lebih banyak daripada perusahaan raksasa yang sudah lama menguasai pasar. Bahkan perusahaan-perusahaan yang masih bertahan dengan sisi konvensionalnya mulai sedikit demi sedikit habis oleh persaingan digitalisasi saat ini. Banyak perusahaan secara digital baru yang dimotori oleh anak-anak yang jaman dahulu dibilang “bau kencur”.

Start-up adalah sebuah kata dari bahasa Inggris yang artinya sebuah usaha rintisan atau baru saja dimulai. Istilah itu belakangan menjadi tren di dunia digital, terutama di kalangan anak-anak muda dibawah 45 tahun. Mereka berlomba-lomba untuk menciptakan usaha sendiri dan menjadikan usaha itu menjadi kelas nasional, bahkan internasional. Salah satu contohnya seorang anak muda bernama Yasa Paramita Singgih pemilik dari Mens Republic, perlengkapan mode khusus pria, yang sudah menorehkan usahanya menjadi internasional dan disegani. Pada saat usianya masih 19 tahun dia sudah menjadi Narasumber “Asia Pacific Youthpreneur 2014”.

Selain bisnis murni, Start-up dia menyangkut sosial yang biasa lebih dikenal sebagai socialpreneur. yakni usaha yang memiliki dampak sosial. Contohnya, seorang anak muda yang masih berusia 22 tahun bernama Hafiza Elfira pemilik Nalacity Foundation. Usaha Jilbab yang melibatkan ibu-ibu penderita kusta untuk membuatnya dan saat ini sudah beromzet ratusan juta rupiah per bulan.

Ada juga sebuah usaha yang dimulai dari hobi. Misalnya Nicholas Kurniawan yang saat ini masih berusia 20 tahun. Dari hobinya terhadap ikan hias, dia menjadi Exportir ikan hias termuda di Indonesia dengan omzet usaha yang bernilai ratusan juta rupiah per bulan. Usahanya ini dimulai saat dia masih berumur 17 tahun.  

Dari beberapa contoh tersebut, kita jadi lebih mengerti bahwa untuk membuat sebuah bisnis menjadi dikenal dan beromzet besar,kini tidak perlu waktu yang lama. Tidak perlu kantor yang besar dan bagus. Tidak perlu cabang yang banyak dimana-mana. Yang diperlukan adalah ide dan keberanian untuk memulai bisnis dengan suatu mimpi besar. Tidak ada kata terlambat bagi setiap orang yang mau belajar.

Erwin Tan Adiputro,

Ketua Bidang 1 Pengembangan Profesionalis AMA Semarang